Tenggelam dalam Angan

Jalan raya pada sore hari itu menggambarkan ilustrasi dunia modern dengan sangat nyata. Kemacetan, kesumpekan para pengendara, wajah-wajah mereka yang tidak senang dengan sempurna memperlihatkan hasil peradaban modern. Semuanya sibuk, berdesakan ke setiap tempat yang mereka tuju. Suara klakson dan kenalpot kendaraan berpadu di udara, memekakkan telinga setiap orang yang mendengarnya. Seorang laki-laki muda berada di antara kerumunan tersebut, duduk di atas motornya. Hari ini sangat ramai, dia pikir.

Dia sedang berkendara menuju tempat kerjanya. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 1 jam dari tempat dia tinggal. Hanya saja, hari ini lebih tersendat dari biasanya, jadi akan memakan waktu lebih banyak. Dia dengan elok menggerakkan setang motor ke kanan dan kiri, menyalip setiap kendaraan yang dia lihat. Dia rasa semakin lincah dia berkendara, semakin kecil kemungkinan dia untuk telat.

Setelah mengulang hal yang sama berulang kali, dia pun sampai. Dia mematikan motor, mengeluarkan ponsel di saku jaketnya dan memerhatikan waktu. Jam 1.35 siang. Sial. Dia telat 5 menit. Dia bergegas memasukan motornya ke garasi di teras rumah tersebut, turun dari motor lalu mengetuk pintu. Dia berharap kliennya tidak akan komplain atau marah. Di benaknya, ia tahu bahwa ini hal yang perlu ia perbaiki. Satu waktu, dia telat 15 menit dari seharusnya dan klien tersebut tidak ingin bertemunya lagi. Ah, dasar diriku yang bodoh, dia pikir.

Tak lama kemudian, ada seorang anak laki-laki yang terlihat lebih muda membuka pintu. Rambutnya hitam legam, lurus. Postur badannya kurus, dan tingginya yang masih pendek menjadi bukti bahwa dia masih berada di bangku sekolah.

“Halo, kak. Masuk aja. Aku siap-siap dulu ya.” ucap anak tersebut.

“Hi, Andra. Aku izin masuk ya.”

Anak itu mengangguk, lalu pergi ke lantai atas, meninggalkan dia sendiri di ruangan yang terlihat seperti ruang tamu. Terpasang televisi di dinding, lengkap dengan sofa berukuran besar dan meja kecil di depannya, komplit seperti ruang tamu pada umumnya.

Di sekeliling dinding rumah tersebut terpampang banyak figura foto tua. Pasti ini foto keluarga dan leluhurnya, dia pikir. Semuanya tampak mapan, hampir seluruhnya memakai seragam atau semacam jas yang menunjukkan pangkat. Keluarga Andra terlihat berasal dari daerah lain, ditandai dengan warna kulit mereka yang lebih gelap, kontras dengan warna kulit warga asli daerah tersebut. Mereka juga sepertinya sangat berkecimpung di dunia militer. Beberapa dari pria dalam foto-foto tersebut memakai pakaian khas tentara, lengkap dengan aksesoris nya.

Dia melihat semua itu dengan kekaguman, berharap dia dapat memiliki keluarga sendiri seperti keluarga Andra nanti. Dia pun teringat bahwa semua ini perlu usaha, dan dengan orang yang tepat.

Sampai saat ini, dia selalu merasa bahwa hubungannya yang dulu dengan mantan pasangannya mungkin bisa menjadi awal sesuatu yang besar. Sesuatu yang bisa menghasilkan rumah dengan foto-foto keluarga di dalamnya.

Tapi, dia terlalu naif.

Dia tidak menyadari bahwa banyak hubungan dengan waktu yang lebih lama dan situasi yang lebih rumit juga dapat berakhir dengan buruk.

Di tengah perjalanan pikirannya yang entah kemana, dia kembali tersadarkan ketika pembantu rumah keluarga Andra datang ke ruang tamu.

“Halo, A. Boleh langsung ke atas aja, belajarnya di atas, katanya.” ucap wanita tersebut. Badannya sedikit gemuk, dan cukup pendek. Rambutnya hitam dan terlihat sedikit lepek, kemungkinan karena sudah bekerja seharian.

“Oh iya, baik. Maaf, tadi saya bengong jadi tidak sempat sadar ada mba disini.”

Dia tertawa lalu bilang “Tak apa, A. Pasti lihat foto keluarganya ade ya. Kebetulan semuanya itu TNI, kecuali ibunya ade, saya kurang paham kerjanya apa namun jarang ada di rumah. Lebih sering di luar kota. Ayahnya pun begitu.”

Ia hanya mengangguk lalu bergegas ke lantai atas. Di sana, Andra sudah duduk dengan laptop di depannya.

“Oh iya, kenalin aku Ben.”

Andra terbangun dari duduknya dan menjabat tangan Ben.

“Halo kak. Aku Andra. Tapi udah tahu juga sih.” jawabnya sembari tertawa kecil. Tak lama kemudian, mereka memulai pembelajaran.

Ben adalah seorang mahasiswa pendidikan bahasa Inggris di sebuah universitas yang tidak terlalu terkenal. Waktu kosong nya ia pakai untuk bekerja menjadi guru les privat di sebuah perusahaan.

Ben melakukan ini bukan karena keinginannya, setidaknya tidak sepenuhnya. Tentu saja, layaknya anak muda yang lain, ia hanya ingin kuliah tanpa harus khawatir tentang biaya itu sendiri. Namun karena kondisi ekonomi keluarganya dia perlu bekerja untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Semua ketidaksempurnaan dalam hidupnya itu biasanya dia ceritakan kepada seseorang yang dekat dengannya. Seseorang yang mengerti dia. Yang selalu ada ketika Ben merasa sedih, dan selalu antusias ketika Ben mendapat kabar bahagia. Tapi semua itu berakhir ketika mereka, Ben dan mantan pasangannya, Trisha, berpisah.

Ben merasa sangat hancur ketika hubungan mereka berakhir. Meski mereka berpisah dengan damai, tidak membuat rasa sakit yang dirasakan Ben lebih membaik. Justru, kadang, dia rasa lebih baik berakhir dengan pertengkaran. Setidaknya dia bisa melupakan hubungannya dengan Trisha lebih cepat.

Ben dan Trisha berumuran identik. Hanya saja Trisha lebih muda satu tahun. Tapi terlepas dari itu mereka sangat akrab, dan memiliki kesamaan dalam banyak hal. Itu juga yang membuat mereka dapat bertahan selama tiga tahun di SMA. Ketika lulus, akan tetapi, mereka menempuh kuliah di tempat yang berbeda. Kesibukan secara murni muncul di kehidupan keduanya dan jarangnya pertemuan serta obrolan yang ada menjadi faktor berakhirnya hubungan mereka. Keduanya menumbuhkan perspektif dan prinsip mereka masing-masing lalu memutuskan untuk berpisah.

Setelah hubungan itu berakhir, Ben sering mengalami perdebatan internal dengan dirinya sendiri. Muncul kesedihan dan rasa tidak percaya akan sesuatu yang tidak pernah diasumsikan akan terjadi.

Ben selalu memikirkan perdebatan internal tersebut sebagai sebuah masalah yang harus diatasi secepat mungkin. Dia melihatnya seperti dua lembar kertas. Di lembar sebelah kiri tertuliskan semua alasan mengapa akhir hubungan itu adalah hal buruk, dan di sebelah kanan alasan mengapa itu adalah hal baik, dipisahkan dengan garis imajiner di tengah.

Setiap kali Ben mencoba menutup lembaran tersebut, mereka akan menempel, seperti ada yang sengaja menjahili. Lembaran tersebut akan menjadi satu, sulit untuk dibuka. Setiap Ben mencoba membuka lembaran itu, lembaran itu akan sobek, seperti menolak untuk dilihat. Ben sering berpikir dirinya gila untuk mencoba membuka lembaran yang tak ada artinya itu, tapi dia sungguh penasaran. Mengapa? Mengapa lembaran itu tak mau dibuka? Mengapa mereka seolah-olah menyembunyikan sesuatu?

Beberapa bulan setelahnya, Ben masih saja mengalami pikiran negatif. Rasanya hidupnya dibuat tidak ada bumbu. Hambar. Dia teringat makan telur yang tidak dimasukan garam, seperti ada yang hilang. Hidupnya berjalan normal, tentu, namun peristiwa di dalamnya terasa terlewat begitu saja, seperti fast-forward di dalam sebuah video. Dia sering mencoba untuk pause, namun tanpa ada hasil, video itu menolak berhenti.

Di antara perdebatan internal dan konflik dirinya, ada satu hal yang pasti. Kesepian. Ya, kesepian. Rasa yang tidak dia rasakan selama bertahun-tahun muncul tiba-tiba tanpa menjabat tangan. Layaknya dia rasa jabat tangan itu tak harus dan langsung saja bilang “Hai kawan lama, lama tidak berjumpa.”

Karena munculnya rasa asing inilah, muncul seolah keinginan yang baru. Keinginan untuk mencari pengisi kesepian tersebut. Seseorang yang bisa dengan tegas bilang “Heh, aku tahu kamu teman lama tapi kamu harus pergi sekarang, jangan deketin pasangan aku!”

Ben merasa itu hal yang tepat. Betul. Dengan adanya pengganti, masalah akan selesai. Oleh karena itu dia mulai pencariannya.

Suatu malam ketika selesai mengajar, Ben pergi ke suatu cafe untuk menonton live music yang disediakan. Acaranya berlangsung hingga tengah malam, dan banyak orang disana, jadi tak ada alasan, Ben pikir, untuk pulang lebih cepat. Band yang tampil pada malam itu menarik perhatiannya. Seorang perempuan berkerudung dengan wajah muda dan energi yang tinggi berdiri di atas panggung, menyanyikan berbagai lagu populer. Ben tidak berpikir apa-apa, fokus menonton penampilan tersebut. Tapi, tidak butuh Einstein untuk mengetahui bahwa perempuan tersebut kerap mencuri pandangan Ben. Ini normal, Ben kira. Ini yang biasa dilakukan penyanyi. Itu yang Ben utarakan pada dirinya sendiri hingga dia berangkat dari tempat duduknya ke toilet untuk buang air kecil.

Cafe itu tidak besar, dan posisi toilet nya bersebelahan sehingga cermin dapat digunakan baik lelaki maupun perempuan. Ketika Ben berkaca di cermin, sembari mencuci tangannya, dia menyadari ada wanita penyanyi tersebut. Yang kerap melihatnya. Ben berusaha bersikap tenang, dan sedikit cuek, namun wanita itu mendekati Ben, tersenyum, lalu pergi. Singkat cerita, mereka mulai dekat setelah itu.

Di dalam proses perkenalannya dengan wanita itu (namanya April), Ben menyadari beberapa hal. Dia mulai melihat hal-hal yang sebelumnya dia rasa normal di hubungan sebelumnya, tidak sama dengan hubungannya sekarang. Dia juga mulai mengenali April lebih dekat, menemukan sifat-sifat aslinya. Ben di poin ini sadar bahwa dia dan April sangatlah berbeda. Banyak sekali perbedaannya hingga dia merasa hubungannya tidak bisa dilanjut lagi. Ben menyatakan ini kepada April dan hubungan mereka pun berakhir lumayan cepat.

Apa yang aku cari? Ben pikir.

Apakah seseorang? Siapapun itu, asalkan seorang wanita?

Apakah aku mencari ketenangan? Tapi, jika ketenangan kenapa aku merasa gelisah?

Semua pertanyaan tersebut menghantui pikiran Ben ketika ia hendak tidur, makan, mandi, bahkan ketika dia berada di jalan.

Dari hubungannya dengan April, dia selalu merasa dia merelakan sesuatu. Entah itu prinsip, kesabaran, waktu, dan hal lainnya. Ben merasa ia harus selalu tampil baik, dengan versi absolutnya, dan dengan pengertian layaknya seorang filsafat untuk mengerti April dan tindakannya. Tapi lepas dari semua itu, dia selalu berusaha untuk membuat hubungan itu “bekerja”. Selama hubungan itu berjalan, maka masih ada harapan, pikirnya.

Yang tidak dia sadari saat itu adalah mendesakkan berjalannya suatu hubungan adalah suatu hal yang sangat berbahaya… dan bodoh. Bak mencoba mencampurkan air dan minyak. Tentu saja, kita bisa mencoba, bahkan hingga kita gila. Tapi, hukum semesta tidak akan membiarkan kita memaksakan hal yang kita rasa benar menjadi realita. Pada dasarnya, semesta akan mencari cara untuk mengembalikan keseimbangan pada dirinya. Dan keseimbangan itu mungkin tiba di hidup kita dalam bentuk kehilangan orang terdekat, promosi di tempat kerja, atau pertemuan dengan orang baru. Satu hal yang pasti, kita sebagai manusia tidak akan dapat melawan bentuk keseimbangan ini. Kita hanya bisa beradaptasi. Bermetamorfosis. Mencari ‘keseimbangan’ kita sendiri beriringan dengannya.

Hari dan hari mulai melewati hidup Ben. Bulan di kalender mulai berubah, anak muda berkicau di setiap akhir pekan, layaknya burung di musim kawin. Jalan-jalan kota penuh dengan kemacetan dan keluar masuk kendaraan dalam dan luar kota. Curah hujan menjadi satu-satunya hal yang konstan di perubahan ini. Hampir setiap hari hujan menghiasi langit sore di kota itu.

Sore itu rintik kecil jatuh di atap bangunan-bangunan dekat taman. Angin sejuk berhembus meniup setiap orang yang sedang di luar ruangan. Taman itu basah, bunga dan tanamannya terlihat subur. Pemandangan itu memotret bayangan orang-orang terhadap gambaran taman yang basah di pagi hari karena hujan semalaman.

Ben baru saja selesai kerja. Dia memutuskan untuk pergi ke taman sore itu untuk menghindari kemacetan jam pulang. Dua hal, dia pikir. Antara menunggu di jalan, menghirup debu, atau duduk di taman menghirup wangi bunga yang sedang mekar. Jelas yang kedua, dia pikir.

Ia berjalan selama beberapa menit sebelum akhirnya duduk di sebuah kursi di bawah pohon beringin yang lumayan besar. Sedikit terlihat menakutkan, namun ada rasa aman tersendiri yang terasa. Ukuran pohon yang lumayan besar, ranting kokoh, dan daun yang lebat membuat pohon ini terlihat sebagai benteng yang bisa dipercaya. Pastinya pohon ini tidak akan mudah tumbang hanya karena hujan kecil.

Setelah duduk, Ben mulai mengeluarkan buku jurnal kecil dan bolpoinnya dan mulai mengobservasi.

Tertulis..

TUGAS HARI INI :

  1. Sebutkan hal yang disyukuri hari ini
  2. Sebutkan hal yang disayangkan hari ini
  3. Sebutkan hal yang diinginkan hari ini
  4. Sebutkan hal yang tidak ingin hilang hari ini
  5. Apa kamu bahagia hari ini?

Sembari melihat sekitar, tangan Ben mulai menuangkan tinta ke buku jurnal di pahanya. Hari ini cuacanya bagus, pikirnya. Badannya sehat. Sempat makan enak. Kerjaan lancar. Hari yang lumayan bagus.

Seorang pasangan yang berjalan lewat membuat Ben terbangun. Mereka pasangan muda, nampak dari wajahnya mungkin mereka hanya lebih tua beberapa tahun dari Ben. Wajah mereka berbinar, senyum satu sama lain, membicarakan hal-hal insignifikan, tapi itu semua tidak penting karena mereka terlihat senang. Disayangkan, Ben hanya bisa melihat sebagai penonton. Ini bukan ceritanya, dia pikir.

Ben mulai berpikir, yang dia inginkan hari ini adalah ketenangan. Ketenangan di antara hiruk pikuk semua hal. Maksudnya, dia pikir, itu alasan kenapa dia suka pergi ke taman. Mencari suasana yang tenang. Jika jalan raya kota yang macet adalah pikiran dia yang berisik, maka taman adalah fase tidur. Tenang, sunyi, berjalan perlahan tanpa terburu. Akhir dari semuanya sebelum memulai lagi di keesokan harinya.

Dia tak ingin kehilangan rasa ketenangan itu. Meski dia berada di taman, dia tahu bahwa dia harus tetap kembali ke jalan raya yang macet, berdebu, dan bising tersebut. Ini hanya tempat peristirahatan. Sejenak.

Sebelum mulai mengisi bagian terakhir jurnal tersebut, Ben mengangkat kepalanya dan mulai melihat semua orang yang ada di sekitarnya. Apa mereka bahagia?

Ada yang dengan pasangan, ada yang dengan anak, ada yang dengan keluarga, dan ada yang sendiri.

Apa yang membuat kita merasa bahagia?

Itu pertanyaan rumit. Setiap waktunya mengisi bagian ini, Ben hanya akan mengosongkannya. Tapi hari ini dia berniat untuk akhirnya menyelesaikan jurnal itu.

Waktu yang sudah berlalu banyak seringkali mengukir dan mengkikis pola pikir Ben. Dia sekarang sudah menerima. Tidak selesai. Hanya menerima. Menerima fakta bahwa dia kadang merasa kesepian. Dan itu benar-benar tidak apa-apa.

Ia sadar bahwa kesepian adalah bagian dari kehidupan manusia. Kita sebagai spesies dirancang untuk takut merasa kesepian. Hal yang tadinya berfungsi untuk bertahan hidup sekarang menjadi masalah. Tapi kita harus mengerti, bahwa itu normal. Tidak perlu melihat hal itu sebagai hal yang perlu ditangisi atau diperbaiki.

Ben juga belajar bahwa setiap orang itu berbeda. Dengan sikap, sifat, perilaku yang berbeda. Tidak adil rasanya untuk mengkotakan manusia dan membandingkannya dengan manusia lain, karena pada dasarnya tidak ada dua manusia yang sama.

Ia sadar bahwa orang yang tepat akan menemukan orang yang tepat juga. Tidak perlu membuat keseimbangan kita sendiri. Biarkan alam semesta yang mengatur. Kita hanya perlu mengorbit layaknya bumi ke tata surya. Ben yakin, meski dengan keraguan yang selalu ada di kepalanya, bahwa dia akan menemukan keseimbangan, seorang pasangan yang dapat mengerti dan memperlakukan dia sebaik Ben pada mereka.

Di sore hari itu, Ben berhasil menyelesaikan tugasnya. Dia tutup buku jurnal tersebut, memasukan bolpoin, dan pergi meninggalkan taman, siap menulis lembaran baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *