Kekeliruan

Kantin. Siang hari. Suara orang bercakap ria terbang di udara. Suaranya cukup besar untuk kita sadari, tapi cukup kecil hingga tidak menjadi gangguan. Beberapa momen berlalu, dan suara itu hilang. Menjadi bagian dari suara latar belakang. Layaknya suara kendaraan yang hilang ketika kita sudah berada di tempat itu untuk waktu yang lama.

Aku menemukan diriku termenung di tengah keramaian kantin, melihat ke ruang kosong menghadap lapangan olahraga. Rumputnya hijau menawan, tidak asli memang, namun cukup meyakinkan untuk terlihat nyata. Garis putih terbentang di sepanjang lapangan, membentuk persegi panjang. Dua gawang berdiri di setiap ujung garis tersebut, menandakan dua sisi yang berlawanan. Yin & Yang, terbesit di pikiranku. Konsep dua sisi yang juga berlawanan, memiliki sifat berbalik dari pasangannya. Tapi mereka punya kemiripan. Tanpa pasangan mereka, mereka tidak utuh. Bukan kesatuan. Tidak lengkap. Bayangkan saja, bagaimana dua tim akan bermain hanya dengan satu gawang?

Ditengah semua ini, sebenarnya aku tidak sendiri. Aku sedang bersama teman-temanku, makan bersama. Hanya saja, aku tidak nafsu makan, jadi aku menghabiskan waktuku untuk melamun.

Mereka sangat akur. Saking akurnya hingga kemanapun dilakukan bersama. Makan bersama, belajar bersama, main bersama, bahkan ketika kita masih lebih kecil, mandi bersama. Tapi satu hal yang aku tidak ketahui adalah mengapa kita bersama?

Tentu saja, kita semua adalah teman sejak lama. Andra, contohnya, aku kenal dia sejak aku berusia 9 tahun. Kris, yang aku kenal lewat Andra, telah berteman denganku 5 tahun lebih. Poetri. Ya, Poetri yang terbaru. Aku kenal dia ketika masuk bangku sekolah menengah atas.

Kita selalu bersama, kenal satu sama lain dengan baik sekali. Namun anehnya, aku selalu merasa sendiri.

“Bram. Gak lapar? Kamu tahu gak baik lewatin jam makan kayak gitu.” kata Andra, membawaku kembali ke alam sadar.

“Iya tuh. Kebanyakan ngelamun sih, kamu. Makanan aja sampe dicuekin.” celoteh Poetri, dengan mimik judes khasnya. Aku kadang suka berpikir bahwa Poetri sebenarnya tak suka padaku, tapi aku tak bisa membuktikannya.

“Udah, udah. Makan dulu gih, Bram. Bentar lagi istirahat selesai.” Kris yang terakhir berbicara, mengakhiri penghakiman singkat kepadaku. Aku coba habiskan makan siang itu, namun hanya mampu setengah.

Di kelas, semua siswa sudah kembali dari istirahat mereka. Aku duduk sebangku dengan Andra. Meski aku berteman paling lama dengannya, namun aku tidak merasa begitu dekat. Jangan salah paham, dia tak pernah memperlakukanku dengan buruk. Hanya saja, aku rasa aku tidak terlalu mengenal dia. Dalam benak kepalaku, aku yakin dia pun merasa hal yang sama.

Setiap ada jam kosong, dia selalu pergi ke belakang, ke tempat Poetri dan Kris duduk. Mereka tidak duduk bersama, hanya saja bersebelahan, jadi mudah untuk mengobrol. Pada waktu-waktu tersebut, Andra akan mengobrol dengan mereka, bahkan hingga tertawa terbahak-bahak sampai aku yang duduk di depan pun dapat mendengarnya. Meski begitu, aku tak pernah diajak.

Ada satu waktu aku mencoba berinisiatif untuk menghampiri mereka, hanya untuk menyadari aku menjadi sumber kecanggungan pembicaraan. Setiap aku berada di sana, tidak akan ada gelak tawa yang tercipta. Percakapan menjadi tak terarah, dan rasa canggung terasa di udara. Semenjak itu, aku berhenti mencoba. Rasanya terlalu memaksa.

Hari-hari selanjutnya berlangsung dengan normal. Andra masih pergi ke belakang seperti biasanya, dan aku akan melamun sambil menggambar hal apapun yang terlewat di pikiranku.

Bulan ini ada sebuah film populer yang akan tayang. Hampir semua orang yang aku tahu pergi menontonnya. Mereka bilang film itu wajib ditonton. Rasa penasaranku menguak ketika masa film itu tayang.

Suasana kelas sedang ramai. Bukan karena pelajaran atau tugas, namun semuanya nampak semangat membicarakan pengalaman mereka setelah menonton film tersebut.

“Gila, seru banget anjir. Parah.”

“Iya kan? Eh lu inget ga waktu si karakter utama—-”

Stop. Aku tidak ingin dengar spoiler. Aku ingin melihatnya sendiri.

Kantin. Istirahat siang.

“Aku dengar film baru itu bagus. Bagaimana kalau kita nonton bersama?” kataku memulai pembicaraan, sembari memasukan satu sendok nasi katsu kedalam mulutku. Ini enak, pikirku. Entah kenapa katsu hari ini terasa lebih gurih dari biasanya.

Andra, Kris, dan Poetri hanya diam. Tak ada satu katapun yang diucapkan. Mereka melihat satu sama lain. Aku dapat merasakan rasa tidak nyaman di wajah mereka pada suapanku.

“Kenapa?”

Andra yang mulai bicara.

“Begini, Bram. Bukan kita gak mau, tapi kebetulan kita sudah menontonnya minggu lalu.”

“Iya, kita gak tahu kamu ingin nonton juga. Jadi kita langsung pergi.” tambah Poetri

“Sorry ya, Bram.” ucap Kris dengan wajah memelas. Aku tidak yakin dia memang menyesal, atau hanya tidak ingin aku marah kepadanya.

Aku mengangguk sendiri, sambil lanjut mengunyah nasi katsu di mulutku. Rasa gurih yang tadi muncul, hilang. Sekarang hanya pahit.

Tak pernah aku kira ini akan datang. Aku kecewa, sedih. Namun tak ada pun reaksi yang muncul dariku. Aku mencoba menjawab, namun hanya satu kata yang keluar.

“Okay.”

Malam itu, banyak pikiran terlintas di kepalaku. Satu, mengapa mereka tidak menanyakanku terlebih dahulu?. Ya, aku tahu aku tidak terlalu bisa mengikuti pembicaraan, namun setidaknya sebagai teman hal terkecil yang bisa mereka lakukan adalah bertanya. Melibatkanku.

Dua, bagaimana mereka bisa tega pergi tanpa keberadaanku? Maksudku, semua hal kita lakukan bersama, namun ini, pertama kalinya mereka pergi bersama tanpaku.

Tiga, apakah aku tidak terlalu penting untuk dilibatkan dalam kebersamaan mereka? Semakin aku pikirkan, mungkin aku hanyalah karakter figuran di pertemanan tiga sekawan mereka. Topping. Perasa. Meski mungkin hambar.

Beberapa bulan selanjutnya aku lanjutkan untuk merenung. Aku menjadi lebih jarang berbicara. Lebih banyak mengobservasi. Andra selalu mencoba memulai pembicaraan. Namun aku tidak ada keinginan untuk mendengarnya. Semuanya terdengar seperti omong kosong.

Aku semakin sering merasa kesepian.

Seiring waktu berjalan, aku tambah tidak nyaman dengan kesendirianku sendiri. Awalnya itu terasa bebas, tidak harus berbicara dengan orang yang menyakitiku. Namun kelamaan, rasa sendiri itu menggerogotiku. Aku teringat ketika aku bersama mereka, rasa kesepian ini pun ada, namun akan hilang ketika mereka ada. Saat kita pulang ke rumah masing-masing, perasaaan itu akan muncul kembali.

Mengapa? Mengapa aku merasa seperti ini?

Sendirian ataupun tidak, rasa kesepian masih ada.

Hanya ketika aku melakukan lebih banyak renungan aku menyadari sesuatu. Saat itu aku sedang di taman. Terbentang di depanku danau kecil bening. Luasnya tidak terlalu besar, meski menurut perkiraanku cukup dalam. Para keluarga angsa sedang berenang di atasnya, melakukan ronde mereka memutari danau. Tak bohong, cara mereka berenang cukup lucu. Seringkali mereka akan menggetarkan bokong mereka, seolah bergoyang ke aliran sungai. Melihatnya juga sudah membuatku tertawa.

Di antara para kumpulan angsa, ada angsa yang menarik perhatianku. Angsa itu terlihat biasa saja, tidak lucu atau apapun. Tapi yang aku lihat adalah dia sendiri. Ketika para angsa lain berkelompok untuk mengitari danau, dia berenang menyendiri. Tidak mengikuti arus komplotan angsa lain. Dan entah kenapa, dia terlihat tidak terganggu sama sekali. Bahkan dia terlihat senang.

Tentu saja aku tidak bisa membaca pikiran dan wajah angsa. Namun angsa itu mengingatkanku pada diriku sendiri. Bedanya dia tidak merasa sendirian. Dia nyaman menyendiri.

Beberapa menit setelahnya, komplotan angsa yang tadi mulai menghampiri angsa itu. Mereka mulai berenang memutarinya, dan satu angsa bahkan mendekatinya, sangat dekat. Aku terus menonton semua ini. Akhirnya angsa yang mendekati itu menempelkan kepalanya. Angsa penyendiri itu diam. Terlihat bingung. Namun, perlahan dia menunduk dan menempelkan kepalanya ke angsa dihadapannya. Dan begitulah, tercipta momen ikonik yang sering diambil oleh fotografer di televisi.

Sore hari itu, aku kembali pulang. Ku ambil ponsel dekat meja, dan mulai menelpon temanku satu persatu. Andra, Kris, lalu Poetri. Aku meminta maaf, dan memohon mereka untuk menerimaku kembali.

Saat itu, aku sadar. Sebaik atau sejahat apapun orang di sekitarmu, tidak akan memengaruhi rasa kesepian yang ada di dalam diri kita. Semua itu hanya bisa diatasi oleh kita sendiri. Hanya dengan nyaman bersama diri sendiri, barulah orang akan menghargai dan ingin berteman dengan kita. Dan aku juga sadar bahwa hanya diri kita sendiri yang bisa melakukan itu.

Hanya ketika kita nyaman dengan diri sendirilah kita akan nyaman dengan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *